Bukkak Langgek: Diaspora dan Dinamika Sosial Budaya Orang Bawean

Sebagian penelitian tentang etnis perantau di Indonesia menunjukkan bahwa tradisi merantau dibangun di atas sistem kebudayaan Demikian juga Orang Bawean lebih dikenal sebagai perantau daripada sebutan yang lain. Kebiasaan merantau dengan kisah suksesnya, melahirkan nilai-nilai kultural yang diturunkan secara turun temurun. Merantau menjadi budaya dan sistem nilai yang diacu masyarakat Bawean.  Tradisi merantau dalam tradisi lisan orang-orang Bawean dikenal dengan Bukkak Langgek (membuka langit) sebuah tradisi untuk membuka cakrawala dengan dengan melakukan kegiatan merantau. Dalam istilah lain sebutan merantau bagi orang Bawean disebut juga ‘ngoker lange: (mengukir langit). Buku yang berjudul  Bukkak Langgek: Diaspora dan Dinamika Sosial Budaya Orang Bawean  ditulis oleh Yon Machmudi dan Abdurakhman diterbitkan oleh Pusat Dokementasi Seni Indonesia, 2020 ini memaparkan tradisi meantau dan berbagai aspek sosial budaya orang Bawean.

Beberapa syair Bawean mengandung falsafah hidup sebagai pedoman hidup masyarakatnya, seperti halnya syair “ajhek nyengkap sewe’ mon ghitak ngoker lange’, ajhek ngoker lange’ mon ghitak cokop sangu laher batin” yang artinya, jangan buka jarit perempuan (kawin) sebelum buka langit (merantau), jangan merantau sebelum cukup lahir batin. Merantau menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari budaya orang-orang Bawean. Kegiatan merantua telah ditanamkan sejak kecil (Aziri, 2019, p. 56).

Pandangan hidup masyarakat Bawean juga tercurahkan ke dalam syair lagu Bawean yang berkaitan dengan budaya merantau. Merantau tetap diharapkan untuk kembali walaupun sebenarnya banyak dari mereka yang kemudian menetap sebagai warga negara asing di perantauan. Salah satu syair yang cukup terkenal adalah sebagai berikut.

Bhebien

Entolah suara ate bule

Sanyaman-nyaman neghera oreng

Tak senyaman e Bhebien

Sittung artena sittung epaengak-engak

Ate-ate bede enageran oreng, sittung artena

Kadeduek jhek lambek-lambek

Sakabbina ento se e kaenga e

Bawean

Dengarlah suara hatiku

Sesenang-senangnya di negeri orang

Tak senyaman di Bawean

Hanya satu yang perlu diingat

Hati-hati di negeri orang, hanya satu

Kedua jangan terlalu lama

Ingat-ingatlah pesan adik

Bagi orang Bawean, Pulau Bawean adalah pulau lahir dan mati, merantau hanyalah sementara untuk nanti kembali lagi. Meski pada kenyataannya ada yang tinggal menetap di wilayah rantauan. Lebih lanjut Samwil (2018) menjelaskan mengapa Bawean disebut sebagai pulau hidup dan mati, karena Pulau Bawean sangat cocok sebagai tempat kelahiran anak manusia dan tempat menghabiskan masa tua. Pulau Bawean kaya akan ikan dengan kandungan gizi yang sangat baik untuk pertumbuhan badan dan otak balita. Bawean menjadi tempat yang ideal di masa tua karena pulau ini memiliki kultur yang religius seperti banyaknya pesantren, jauh dari kebisingan kota, dan hampir tidak ditemukan tempat-tempat hiburan maksiat.

Diaspora Bawean bisa dipahami dari tipologinya. Menurut Cohen (1997) berdasarkan sudut pandang teritorial tipologi diaspora dibagi dalam empat jenis, yaitu 1) diaspora tenaga kerja, 2) diaspora imperialis, 3) diaspora dagang dan 4) diaspora budaya.  Dengan tipologi ini diaspora Bawean termasuk dalam kategori yang pertama, yaitu diaspora tenaga kerja, di mana tujuan utama merantau adalah mencari penghidupan yang lebih baik dan pemenuhan kebutuhan ekonomi. Hal ini juga didukung dengan pelayaran nusantara yang telah berlangsung berabad yang lalu.

Teori diaspora yang diajukan oleh Cohen didukung dengan penjelasan Lapian berkaitan dengan interaksi antar pulau melalui pelayaran sehingga yang memungkinkan integrasi masyarakatnya di kepulauan Indonesia dan luar negeri. Bagi kepulauan Indonesia jalur komunikasi telah disediakan alam dalam bentuk alur-alur bahari. Yang diperlukan hanyalah keberanian, kemampuan dan ketrampilan untuk menggunakan alur bahari ini.  Didorong oleh kebutuhan ekonomi dan budaya bahari orang-orang Bawean melakukan pelayaran dan berdiaspora ke berbagai wilayah.

Sebagai masyarakat maritim yang egaliter, penduduk Bawean terbuka dan biasa berinteraksi dengan kelompok-kelompok lain melalui pelayaran dan perdagangan yang telah berlangsung sejak beberapa abad lalu. Dalam catatan sejarahnya sudah sejak dulu Pulau Bawean dihuni oleh kelompok-kelompok penduduk dari berbagai etnik. Di antaranya etnik Madura, Jawa, Bugis, Palembang yang disebut golongan Kemas dan lain-lain.  Bertemunya kelompok-kelompok etnis di atas menjadikan Bawean sebagai tempat yang srategis bagi lahirnya kehidupan baru dan tumbuhnya kebudayaan baru (Christriyati 2010). 

Terjadinya proses sosial karena bertemunya kelompok-kelompok manusia yang berbeda budaya disebut asimilasi. Proses asimilasi adalah proses sosial yang lahir dari masyarakat bilamana terdapat; 1) kelompok manusia yang berasal dari lingkungan kebudayaan yang berbeda, 2) individu-individu dalam masyarakat saling bergaul intensif dalam waktu yang cukup lama, 3) kebudayaan setiap kelompok berubah menjadi satu, atau unsur-unsur kebudayaan yang ada berubah wujudnya menjadi unsur kebudayaan campuran (Peoples 2000).  Intensitas pergaulan kelompok-kelompok etnik di Bawean ini sangat tinggi karena mereka berbaur dalam berbagai kepentingan seperti ekonomi, sosial dan budaya, sehingga dalam perkembangannya mereka menyebut dirinya sebagai “Orang Bawean”.

Informasi Buku

Judul               : Bukkak Langgek: Diaspora dan DInamika Sosial Budaya Orang Bawean.

Penulis            : Yon Machmudi dan Abdurakhman

Penerbit          : Pusat Dokumentasi Seni Indonesia

Halaman         : vii +205 halaman

Cetakan           : 1 2020

ISBN               : 978-623-929-672-8

Hits: 25