Periode Pemikiran Nasionalis, Marxis, Marhaenis, dan Islamis Soekarno

Direktur Riset dan Pusat Data InMind Institute Fitriyah Nur Fadilah, S.Sos., M.I.P. merangkum periode pemikiran Soekarno berdasarkan karya Bernhard Dahm dalam bukunya yang berjudul Soekarno dan Perjuangan Kemerdekaan.

Dalam mengawali tulisannya, Dahm menggambarkan konsepsi mengenai Ratu Adil yang banyak diyakini masyarakat Jawa berdasarkan ramalan Jayabaya, yang menyebutkan akan datangnya Ratu Adil atau Mahdi atau seorang Mesiah, yang akan menyelamatkan rakyat Jawa dari kemiskinan dan penderitaan yang menimpa mereka atas penjajahan Belanda. Konsepsi inilah yang kemudian banyak dikaitk-kaitkan oleh masyarakat Jawa terhadap kemunculan Soekarno sebagai Ratu Adil. 

Sebelum hadirnya Soekarno ke dalam politik nasional, HOS Tjokroaminoto yang merupakan pendiri Sarekat Dagang Islam, yang mendapat simpati banyak kalangan bawah, terlebih dahulu dilekatkan dengan konsepsi ini oleh para pengikutnya. Barulah kemudian ketika Soekarno menjadi lebih populer dengan ide nasionalisme, marxisme dan islamisme, yang mencoba merangkul seluruh kalangan dalam sebuah kesatuan, ia kembali dilekatkan dengan konsepsi ini dibandingkan dengan Tjokroaminoto, yang mulai kehilangan pamor karena sikap kooperatifnya dengan Belanda.

Secara umum, Dahm membuat kategorisasi pemikiran dan pergerakan Soekarno berdasarkan periodesasi waktu. Pada periode tahun 1926 hingga 1931 menurut Dahm merupakan tahap nasionalis. Di masa ini Soekarno mulai mengeluarkan konsepsi emasnya mengenai “Nasionalisme, Islamisme, dan Marxisme” dengan menuliskan artikel berkenaan dengan hal itu di majalah Indonesia Muda. Ketiga aliran tersebut dalam pandangan Soekarno harus bersatu untuk melawan penjajahan Belanda. Hanya dengan persatuan lah, kemerdekaan yang dicita-citakan oleh ketiga aliran ini akan terwujud. Inilah awal mula gagasan Soekarno yang jelas dan gamblang mengenai cita-citanya yang kelak akan diwujudkan dalam setiap pergerakannya.   

Dalam memperkukuh konsepsi kesatuan dalam payung nasionalisme ini Soekarno mencoba mengambil contoh dari tokoh-tokoh pejuang kemerdekaan di negara lain. Soekarno misalnya, mencoba mengambil model  dari keberhasilan Ghandi yang telah menyatukan orang-orang Islam, Hindu, Parsi, Jain dan Sikh di India. Di mana Soekarno mengutip konsepsi tanah air menurut Ghandi yang menyatakan bahwa kecintaan dirinya terhadap tanah air merupakan kecintaan pada segala manusia. Dengan konsepsi ini Soekarno ingin menyampaikan kepada seluruh rakyat, bahwa kecintaan terhadap tanah air atau nasionalisme, menjadikan manusia saling mencintai satu sama lain tanpa terbatasi oleh ikatan-ikatan primordial seperti agama. Meski demikian ia menolak nasionalisme ala Barat yang bersifat chauvinis (mencintai negara secara destruktif) dan merugikan sehingga kemudian ia memberikan konsepsi nasionalisme yang baru yakni yang anti-imperialisme, anti-barat dan tidak hanya di Indonesia tetapi juga di di Asia di kemudian hari. Nasionalisme ini disebutnya sebagai nasionalisme-Timur, sebuah nasionalisme yang sejati.

Pada periode tahun 1932 hingga 1933, Dahm melihat tahun ini merupakan tahap Marhaenis, di mana di tahun 1932 untuk pertama kalinya Soekarno mengeluarkan konsepsi Marhaenis. Konsepsi ini keluar untuk membedakan konsepsi kaum proletar yang digunakan PKI sebagai propaganda mereka terhadap rakyat. Kaum Marhaen sendiri menurut Soekarno berbeda dengan konsep proletar, kata Marhaen sendiri berasal dari nama seorang petani yang memiliki tanah (modal) sendiri dan alat sendiri namun hidup dalam kemiskinan. Keadaan inilah yang menggambarkan keadaan bangsa Indonesia saat itu, sehingga muncullah konsepsi kaum Marhaen.

Pada masa ini Soekarno juga menyebarkan ide-ide Marhaenisnya dalam berbagai kesempatan dan lewat berbagai media. Menurutnya, Marhaenis adalah tiap orang Indonesia yang bersedia bekerja sama untuk membangun tatanan sosial yang lebih adil. Dalam pengertian ini Soekarno mendiadakan perjuangan kelas sebagaimana prinsip Marxis, dan juga membuka keterbukaan masyarakat untuk bekerja sama, baik kalangan miskin atau kaya, demi satu tujuan yakni kemerdekaan.

Sedangkan pada periode 1934 hingga 1941 Dahm melihat tahap ini sebahai tahap Islamis. Pada periode sebelumnya, Soekarno dan kalangan Islam, yang diwakili oleh Agus Salim banyak mengalami perdebatan. Konsepsi nasionalis yang diutarakan Soekarno untuk merangkul seluruh kalangan (Islamis dan Marxis) bagi Agus Salim mengundang bahaya laten. Bahaya itu dapat dilihat peperangan yang terjadi di Eropa akibat nasionalisme. Selain itu pemuja-mujian Soekarno terhadap tanah air yang bersifat kebendaan tidak sesuai dengan ajaran Islam. Seharusnya, menurut Agus Salim, tanah air dilihat sebagai sebuah pemberian dari Allah dan tidak melakukan pemujaan terhadapnya. 

Akan tetapi kemudian di periode 1934 hingga 1941 pemikiran Soekarno, menurut Dahm, bergeser ke arah Islam. Ini dapat dilihat dari surat-menyurat yang dilakukannya dengan Ahmad Hassan, Pemimpin Persatuan Islam (Persis) di Bandung. Pada surat pertamanya ia meminta kepada Ahmas Hassan agar dikirimi buku-buku keislaman agar dapat mempelajari Islam secara dalam tetapi jika mengambil kutipan-kutipan yang diambil oleh Dahm untuk menggambarkan pandangan Soekarno terhadap Islam di masa ini, pada dasarnya Soekarno tidak memberikan perbedaan pemikirannya terhadap Islam dengan periodesasi sebelumnya. 

Pemikiran Soekarno di masa ini secara garis besar dapat dikatakan bertentangan dengan tema besar Dahm yang melihat bahwa pada periode ini Sokarno mengalami perubahan minat terhadap Islam. Berdasarkan kutipan Dahm, justru Soekarno di satu sisi menjunjung Islam namun di sisi lain menghujat perilaku orang Islam tanpa melihat kontektualisasi yang terjadi. Tentu jika Soekarno mengalami pergeseran minat yang sungguh-sungguh terhadap Islam, dia akan mengambil nilai-nilai keislaman untuk dipahami dan diambil untuk menyelesaikan masalah kekinian, bukan justru menghujatnya.

Pada periode setelah tahun 1941 di dalam bukunya, Dahm lebih banyak menggambarkan perjuangan yang dilakukan oleh Soekarno untuk mencapai kemerdekaan Indonesia. Pada masa ini Dahm tidak menyinggung-nyinggung sedikitpun pemikiran-pemikiran Soekarno mengenai Indonesia dalam perjuangannya untuk meraih kemerdekaan. Sehingga kemudian, yang menjadi salah satu kritik terhadap buku ini, Dahm mendikotomikan Soekarno sebagai seorang pemikir dan pejuang. Seolah-olah pada periode 1941 Soekarno adalah seorang pemikir dan kesudahannya adalah seorang pejuang. Padahal dari awal Soekarno sudah menempatkan dirinya sebagai seorang pejuang, yang telah memiliki konsepsi atau pemikiran yang jelas dalam perjuangannya itu. Sehingga sedari awal ia secara konsisten menempatkan dirinya sebagai orang yang Nasionalis, dan berada di atas kalangan Islamis dan Marxis. 

Kritik lain terhadap buku ini adalah data yang saling inkonsisten satu sama lain. Selain mengenai inkonsitensi Dahm mengenai pemikiran Soekarno dalam periode Islam yang telah diulas di atas, data yang inkonsisten bahkan salah adalah penyebutan Dahm bahwa di masa tahun 1930-an Soekarno bukanlah penganut agama Islam dan pengetahuannya tentang Islam didapat dari buku The New World of Islam. Tentu hal ini tidak benar dan bertentangan dengan fakta-fakta yang juga ditulis oleh Dahm. 

sumber gambar: https://www.batasnegeri.com/sukarno-dan-resolusi-tahun-baru-1-januari-1963/

Hits: 24