The Role of Habitus in Gendering Party: PDIP in Bali

Penulis: Firman Noor (Wakil Direktur Eksekutif InMind Institute)

Representasi politik perempuan di Indonesia masih terbatas meskipun terdapat kebijakan tindakan afirmatif. Partai politik sebagai gatekeeper memainkan peran penting dalam membentuk akses perempuan terhadap kepemimpinan dan pencalonan. Artikel ini menganalisis habitus perempuan di Dewan Pimpinan Daerah (DPD) PDIP Bali dalam konteks budaya patriarki Bali dan struktur partai yang didominasi laki-laki, dengan menggunakan konsep habitus dari Bourdieu. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif melalui wawancara mendalam dan sumber data sekunder. Analisis difokuskan pada interaksi antara habitus perempuan, modal, dan ranah politik dalam membentuk praktik-praktik berorientasi gender dalam tubuh PDIP Bali. Temuan menunjukkan bahwa dinamika politik dalam partai ini tidak dapat dipisahkan dari habitus para aktor yang terlibat. Habitus memperlihatkan bagaimana norma gender tertanam di kalangan anggota partai dan berinteraksi dengan struktur partai dalam membentuk praktik politik. Interaksi antara modal, habitus, dan ranah politik perempuan juga memengaruhi pembentukan gendering PDIP di Bali. Selain itu, norma adat memainkan peran penting dalam membentuk habitus perempuan, yang seringkali tidak berkembang menjadi perspektif gender yang transformatif. Alih-alih menantang struktur patriarki, perempuan dalam partai cenderung mengakomodasi atau mereproduksi norma maskulin yang sudah ada, meskipun mereka aktif berpartisipasi dalam ranah politik maupun adat. Akibatnya, kondisi ini belum berhasil mendobrak dominasi maskulin yang tertanam dalam partai politik.

Artikel Selengkapnya dapat diakses pada link The role of habitus in gendering party: PDIP in Bali

Views: 11