Beberapa Teori dalam Memahami Revolusi Sosial

Direktur Riset dan Pusat Data InMind Institute Fitriyah Nur Fadilah, S.Sos., M.I.P. merangkum beberapa teori dalam memahami revolusi sosial yang dirangkum Theda Skocpol dalam bukunya yang berjudul Negara dan Revolusi Sosial.

Skocpol mencoba memaparkan mengenai aspek-aspek teoritis dari penulisan buku Negara dan Revolusi Sosial secara keseluruhan. Dalam hal ini Skocpol menjabarkan dan mengkomparasikan seluruh pandangan teoritis mengenai revolusi, di mulai dari pendefinisian mengenai revolusi, hingga perbandingan teoritis mengenai jalannya revolusi itu sendiri. Dan pada akhir bab ini, ia menguraikan metode apa yang digunakannya untuk menulis menganalisis dan memperbandingkan revolusi Perancis, Rusia, dan Cina.

Revolusi sosial diartikan sebagai sebuah perubahan yang cepat dan mendasar yang  mengubah struktur masyarakat dan kelas di sebuah negara. Keadaan ini harus dibarengi oleh dua hal, yakni terjadinya perubahan struktur masyarakat dan perubahan kelas, serta perubahan politik dan perubahan sosial sehingga kemudian dalam pandangan Skocpol, sebuah revolusi sosial harus dianalisis dari perspektif struktural dengan perhatian khusus pada konteks internasional dan perkembangannya di dalam dan luar negeri.

Dalam memahami teori revolusi sosial, disamping teori Marxisme – yang melihat bahwa revolusi muncul sebagai akibat dari gerakan kelas yang muncul sebagai akibat kontradiksi struktural – Skocpol membagi tiga kelompok teori revolusi. Pertama, teori agregat psikologis, yang melihat revolusi merupakan sebuah motivasi psikologis rakyat untuk ikut bergabung ke dalam kekerasan politik ataupun gerakan oposisi. Tedd Gurr dengan bukunya Why Men Rebel  merupakan salah satu pemikir dari kelompok ini.

Kedua, teori konsensus atau nilai, di mana teori ini menjelaskan bahwa revolusi adalah sebuah respon kekerasan dari gerakan ideologis terhadap ketimpangan sosial yang ada di masyarakat. Chalmers Jhonson dengan karyanya Revolutionary Changes termasuk ke dalam pemikir kelompok ini. Ketiga, teori konflik politik, yang melihat bahwa pusat perhatian dari revolusi adalah adanya konflik yang terjadi antara pemerintah dengan berbagai kelompok yang terorganisir untuk merebut kekuasaan. Salah satu pemikir di kategorisasi ini adalah Charles Tilly dengan bukunya From Mobilization to Revolution. Berdasarkan pengelompokkan teori di atas, Skocpol menggunakan pendekatan Marxisme untuk menganalisis fenomena revolusi sosial. Di dalam pandangannya, gambaran utama dari sebuah revolusi adalah terjadinya sebuah konflik kelas.

Menurut Skocpol, untuk memahami revolusi sosial secara jelas, seorang peneliti harus menggunakan perspektif struktural mengenai realitas sosio-historis sebagai dasar bagi analisis revolusi sosial. Fokus dari pandangan ini adalah mengenai hubungan, baik hubungan transnasional maupun hubungan antar kelompok yang ada di negara tersebut. Selain itu, revolusi sosial juga tidak dapat dilepaskan dari ketidakmerataan penyebaran ekonomi kapitalis internasional. Dalam hal ini, Skocpol mencoba mengorelasikan antara modernisasi yang dilakukan secara massif di berbagai negara yang hasilnya tidak serupa dengan modernisasi yang sebelumnya dilakukan di negara maju. Hal ini kemudian mengakibatkan ketimpangan ekonomi di berbagai negara tersebut dan keadaan ini kebanyakan berakhir pada revolusi.    

Selain itu, untuk memahami revolusi sosial, negara juga harus dipahami sebagai pihak yang memiliki otonomi. Dalam perihal ini Skocpol menolak seluruh konsepsi Marx ataupun pandangan-pandangan ilmuwan sosial lainnya yang cenderung melihat negara hanyalah alat bagi kepentingan kelas dominan. Skocpol sependapat dengan pandangan kalangan realis yang melihat bahwa negara adalah organisasi aktual yang mengendalikan territorial dan masyarakat tertentu sehingga menurutnya, negara berwajah ganda. Di dalam konteks terjadinya revolusi sosial, ia tidak boleh hanya dilihat dalam konteks aktivitasnya saja melainkan harus dilihat pula secara bersamaan dalam konteks perpotongan antara kondisi dan  tekanan internasional terhadap struktur kelas yang diatur oleh kepentingan dan ekonomi yang diatur secara politis.

Untuk mengkomparasikan revolusi sosial yang terjadi di Perancis, Rusia, dan Cina, Skocpol menggunakan metode historis komparatif. Ada dua cara analisis di dalam metode ini, yakni pertama, metode persesuaian. Metode ini melihat bahwa pada beberapa kasus yang terjadi, terdapat faktor-faktor penyebab yang sama. Kedua, metode pembedaan, yakni komparasi dilakukan berdasarkan kemiripan pola-pola di dalam kasus-kasus yang terjadi, meskipun dalam kasus-kasus tersebut tidak ditemukan faktor penyebab yang sama. Di dalam tulisannya ini, Skocpol mengkombinasikan kedua metode tersebut.

Secara keseluruhan, Skocpol dengan sangat baik dan komprehensif memaparkan mengenai perkembangan teori-teori mengenai revolusi sosial. Ini dapat dilihat dari penjabarannya mengenai perspektif berbagai ilmuwan dalam menganalisis terjadinya sebuah revolusi sosial. Dia juga melakukan klasifikasi terhadap teori-teori tersebut. Selain itu, Skocpol juga dengan runut memaparkan mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya sebuah revolusi sosial. Dengan sangat baik dia mampu mengambil berbagai perspektif ilmuwan dalam menafsirkan korelasi faktor-faktor tersebut terhadap kemunculan revolusi.

Meskipun demikian, di dalam menganalisa mengenai revolusi, Skocpol tampaknya alpa memasukkan kompenen budaya politik atau political culture di dalam melakukan analisanya terhadap revolusi sosial. Padahal jika merujuk pada Almond, budaya politik sangat penting untuk memahami perilaku di sebuah masyarakat. Meski tidak menjelaskan segala sesuatu mengenai politik, namun menurut Almond, budaya politik merupakan elemen penting untuk memperbandingkan negara yang sama dalam waktu yang berbeda ataupun negara yang berbeda dalam waktu yang sama (untuk memahami lebih dalam, baca buku karya Gabriel A. Almond dan G. Bimingham Powell, Comparative Politics Today: A World View). Senada dengan Almond, menurut Lawrence C. Mayer, variabel budaya merupakan variabel yang sangat penting dalam perbandingan politik, dikarenakan ia mampu menghubungkan level analisis makro dan mikro (untuk memahami lebih dalam, baca buku karya Lawrence C. Mayer, Redefining Comparative Politics: Promises Versus Performance). Ketiadaan variabel budaya politik di dalam menganalisis revolusi yang terjadi di Perancis, Rusia, dan Cina menjadikan analisis Skocpol menjadi timpang. Ini dikarenakan budaya politik merupakan variabel penghubung unit analisa mikro dan makro. 

Jika dikorelasikan dengan kondisi kekinian, kemunculan revolusi sosial di Timur Tengah atau yang dikenal dengan Arab Spring sejalan dengan analisa Skocpol. Di mana dalam salah satu bagian analisanya, ia melihat bahwa modernisasi yang tidak berjalan sempurna, akan menghasilkan ketimpangan ekonomi, yang selanjutnya berujung pada kemunculan revolusi sosial. Keadaan ini pulalah yang mengakibatkan kemunculan revolusi sosial di berbagai negara Timur Tengah. Berkaca pada kondisi Indonesia, ketimpangan ekonomi yang terjadi di Indonesia saat ini, apabila dibiarkan terus berlarut, sangat memungkinkan untuk terjadinya revolusi sosial.

sumber gambar: https://www.socialist.net/the-chinese-revolution-of-1949.htm

Hits: 62