Kunjungan Spektakuler Raja Salman: Diplomasi Bebas Aktif Indonesia

Direktur Jaringan Strategis dan Kerjasama InMind Institute Muhammad Ibrahim Hamdani, S.I.P., M.Si. menuliskan makna kunjungan Raja Salman dari Arab Saudi ke Indonesia. Artikel ini dimuat oleh Dewan Masjid Indonesia (DMI) pada 2017 dalam http://dmi.or.id/kunjungan-spektakuler-raja-salman-diplomasi-bebas-aktif-indonesia/. Hak cipta milik DMI.

Kunjungan spektakuler Kepala Negara Kerajaan Saudi Arabia (KSA), Yang Mulia Sri Baginda Raja Salman bin Abdul Aziz Al-Saud, selama sembilan hari, sejak Rabu (1/3) hingga Kamis (9/3) di Jakarta dan Bali, merupakan peristiwa yang sangat spektakuler dan monumental ditinjau dari perpektif hubungan bilateral KSA-Republik Indonesia (RI).

Hal ini sangat beralasan karena kunjungan terakhir kepala negara KSA, Khadimul Haramain (Penjaga Dua Tanah Suci) Makkah dan Madinah, dilakukan pada 47 tahun silam, tepatnya pada Rabu hingga Sabtu, 10-13 Juni 1970, di era Presiden RI Kedua, Jenderal TNI (Purn). H. Muhammad Soeharto. Saat itu, Kepala Negara KSA ialah Yang Mulia Sri Baginda Raja Faisal bin Abdul Aziz Al-Saud.

Berdasarkan pantauan DMI.OR.ID, Kedatangan Raja Salman bin Abdul Aziz saat ini disambut langsung oleh Presiden Joko Widodo, di Bandar Udara (Bandara) Halim Perdanakusuma, Jakarta, pada Rabu (1/3) siang.

Beberapa menteri Kabinet Kerja juga hadir dan menyambut Raja Salman di Bandara Halim Perdana-kusuma, yakni Menteri Agama (Menag) RI, Drs. H. Lukman Hakim Saifuddin, Menteri Pariwisata RI, Dr. Ir. H. Arief Yahya, M.Sc., Panglima TNI, Jenderal TNI Gatot Nurmantyo, dan Kepala Badan Intelijen Nasional (BIN), Jenderal Polisi (Pol). Drs. H. Budi Gunawan, S.H., M.Si., Ph.D. Hadir pula Gubernur Daerah Khusus Ibukota (DKI) Jakarta, Ir. Basuki Tjahaja Poernama, M.M., dalam penyambutan rombongan resmi Raja Salman bin Abdul Aziz yang berjumlah total 112 orang, termasuk di dalamnya 25 orang Pangeran dan 14 menteri.

Indonesia memiliki peran penting dan posisi strategis bagi Dunia Islam dan masyarakat internasional, termasuk bagi KSA. Apalagi Indonesia merupakan negara berpenduduk mayoritas Muslim terbesar di dunia serta sama-sama berstatus sebagai anggota Organisasi Konferensi Islam (OKI) dengan KSA. Kedua negara juga sama-sama menjadi anggota Konferensi Asia Afrika (KAA) dan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) serta Group of 20 (Group 20).

Pemerintah RI pun berhasil menjadi penyelenggara The 5-th Extraordinary Organization of Islamic Conference (OIC) on Palestine & Al-Quds Al-Sharif (Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Luar Biasa (LB) OKI Kelima) pada 2016 lalu. KTT LB Kelima OKI ini dilaksanakan di Jakarta Convention Centre (JCC), Jakarta, pada Ahad (6/3) hingga Senin (7/3) 2016 lalu. Kegiatan ini mengambil tema Bersatu untuk Solusi yang Tepat bagi Palestina dan Al-Quds Al-Sharif.

Lalu pada pertengahan tahun 2016, tepatnya sejak Selasa (2/8) – Kamis (4/8) 2016, Indonesia kembali dipercaya menjadi tuan rumah penyelenggara World Islamic Economic Forum (WIEF) atau Forum Ekonomi Islam Dunia yang berlangsung di Jakarta Convention Centre (JCC), Jakarta. Perhelatan internasional ini mengangkat tema Decentralising Growth, Empowering Future Business.

Bahkan setahun sebelumnya, Pemerintah RI di bawah pemeritahan Presiden Joko Widodo mampu tampil menjadi tuan rumah penyelenggara Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Asia Afrika/ Asian African Summit 2015, sebagai bagian dari rangkaian Peringatan KAA ke-60 Tahun di Jakarta dan Bandung, 19-24 April 2015 lalu.

Dalam ketiga perhelatan akbar berskala internasional yang sangat bersejarah dan istimewa ini, penulis sangat bersyukur kepada Allah SWT karena berkesempatan menjadi jurnalis peliput perhelatan internasional ini, sebagai redaktur website Dewan Masjid Indonesia (DMI), www.dmi.or.id.

Ketiga perhelatan internasional ini membuktikan besarnya pengaruh politik luar negeri Indonesia di tingkat global, dalam rangka memelihara ketertiban umum dan perdamaian dunia, seperti tertulis dan diamanatkan dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar (UUD) 1945. Posisi srategis dan peran penting pemerintah RI di kancah internasional ini tentu menjadi salah satu daya tarik dan faktor pertimbangan kunjungan kehormatan Raja Salman bin Abdul Aziz selama sembilan hari di Indonesia.

Kondisi ini semakin lengkap dengan fakta bahwa Indonesia merupakan negara berpenduduk Muslim terbesar di dunia. Berdasarkan data sensus penduduk Indonesia tahun 2010 yang dilakukan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) RI, tercatat bahwa 87,18 persen dari total jumlah penduduk Indonesia, dari 237.641.334 jiwa, ternyata beragama Islam. Artinya, terdapat lebih dari 200 juta penduduk Muslim di Indonesia yang merupakan jumlah terbesar di dunia.

Implikasi dari kondisi demografis Indonesia ialah jumlah jamaah haji RI mencapai yang terbesar di dunia, dengan alokasi kuota haji terbesar di dunia yang ditentukan bersama oleh negara-negara OKI. Tahun 2016 lalu, jumlah kuota jamaah haji Indonesia mencapai 168.800 jamaah. Jumlah kuota ini sama seperti tahun 2015, berkurang 20 persen dari jumlah kuota normal Indonesia yang biasanya berjumlah 211.000 jamaah. Hal ini terjadi akibat sedang berlangsungnya proyek perluasan area Masjidil Haram oleh Pemerintah KSA. Data ini disampaikan oleh Menteri Agama RI, Lukman Hakim Safuddin pada Rabu (16/3) 2016 lalu, seperti dikutip dari laman www.republika.co.id.

Kondisi ini menyebabkan Indonesia menjadi penyumbang devisa terbesar bagi pemerintah KSA dalam konteks ibadah haji yang setiap tahunnya dilakukan oleh ummat Islam dari seluruh dunia. Ummat Islam yakin bahwa ibadah haji merupakan pengejawantahan dari rukun Islam kelima, sekaligus sebagai bukti keimanan bagi seorang Muslim yang mampu (secara dzahir dan bathin) hanya kepada Allah SWT. Itu sebabnya Ibadah haji berkedudukan sebagai penyempurna ibadah ummat Islam sekaligus memiliki makna historis, budaya, sosial, dan ekonomi bagi ummat.

Tidak berlebihan kiranya jika Raja Salman bin Abdul Aziz beserta 25 pangeran dan 14 menteri kerajaan serta rombongan inti kenegaraan yang jumlahnya 112 orang itu berkunjung ke Jakarta, Bogor, dan Bali selama total sembilan hari. Bahkan jumlah keseluruhan rombongan yang ikut serta kali ini ialah 1.500 orang dengan menggunakan sedikitnya tiga hotel di Jakarta, yakni Hotel raffles, Hotel J.W. Marriott, dan Hotel Ritz Charton.

sumber gambar: http://dmi.or.id/kunjungan-spektakuler-raja-salman-diplomasi-bebas-aktif-indonesia/

Hits: 6