Ledakan di Beirut Lebanon Bagai Bom Atom, Kecelakaan atau Serangan?

Direktur Eksekutif InMind Institute Yon Machmudi, Ph.D. diwawancarai Liputan6.com terkait ledakan di Beirut Lebanon. Wawancara tersebut dimuat pada 6 Agustus 2020 dalam link https://www.liputan6.com/global/read/4323091/headline-ledakan-di-beirut-lebanon-bagai-bom-atom-kecelakaan-atau-serangan

Boom… Boom…” Selain suara menggelegar menyakitkan telinga, api berkobar, dan asap membumbung membentuk kepala jamur besar, ledakan itu juga menggetarkan tanah seperti gempa bumi dengan magnitudo 3,3.

Orang-orang terluka tergeletak di tanah dekat pelabuhan Beirut, yang jadi lokasi tragedi. Bangunan di sekitarnya hancur, rata dengan tanah. Mobil-mobil terbalik, dan jalanan dipenuhi puing-puing.

“Aku tidak percaya aku masih hidup,” ujar Nada Hamza, salah seorang warga Beirut yang berada di tempat ledakan.

“Saya berada beberapa meter dari pusat listrik di Lebanon, yang sejajar dengan pelabuhan,” imbuhnya, seperti dikutip dari Al Jazeera.

Editor Sky News Timur Tengah, Zein Ja’far, yang berada di pusat kota Beirut saat insiden pada Selasa 4 Agustus sore, mengatakan ledakan besar menyebabkan jendela runtuh dan membentuk seperti gua.

“Ledakan ini merobek fasad bangunan tempat kami berada, dan begitu debu mereda, kami dan orang lain di blok ini bergegas ke luar. Benar-benar pemandangan yang mengkhawatirkan,” kata Ja’far.

“Suara sirene brigade pemadam kebakaran, ambulans, polisi dan juga militer telah cukup gencar selama 45 menit terakhir dan sejumlah besar layanan darurat dan pasukan keamanan bergegas ke daerah itu sekarang,” ungkap dia.

Ja’far menyaksikan banyak orang yang sangat linglung, dengan berlumuran darah berjalan-jalan mencoba mengumpulkan sisa tenaga mereka.

Seorang warga setempat bernama Fady Roumieh, berdiri di tempat parkir sebuah pusat perbelanjaan sekitar 2 km dari timur ledakan. Dia berkata, “(Ledakan itu) seperti bom nuklir. Kerusakan begitu luas dan parah di seluruh kota”.

“Beberapa bangunan sejauh 2 km sebagian runtuh. Ini seperti zona perang. Kerusakannya ekstrem. Tidak ada satu pun jendela kaca yang utuh,” tutur Fady.

Gubernur Beirut Marwan Abboud tak bisa menahan tangisnya ketika memantau lokasi ledakan. Ia mengaku tak pernah melihat bencana seperti ini seumur hidupnya.

“Saya tak pernah melihat kehancuran seperti ini. Ini adalah petaka nasional. Ini adalah bencana bagi Lebanon,” ujar Abboud saat diwawancara Sky News Arabia.

Marwan Abboud juga ikut berpikir demikian. “(Ini) mirip dengan apa yang terjadi di Hiroshima dan Nagasaki,” ucapnya.

“Hingga kini, lebih dari 4.000 orang telah terluka dan lebih dari 100 telah kehilangan nyawa mereka,” ujar Palang Merah Lebanon, seperti dikutip AFP.

Liputan6.com, Beirut – “Boom… Boom…” Selain suara menggelegar menyakitkan telinga, api berkobar, dan asap membumbung membentuk kepala jamur besar, ledakan itu juga menggetarkan tanah seperti gempa bumi dengan magnitudo 3,3.

Orang-orang terluka tergeletak di tanah dekat pelabuhan Beirut, yang jadi lokasi tragedi. Bangunan di sekitarnya hancur, rata dengan tanah. Mobil-mobil terbalik, dan jalanan dipenuhi puing-puing.

“Aku tidak percaya aku masih hidup,” ujar Nada Hamza, salah seorang warga Beirut yang berada di tempat ledakan.

“Saya berada beberapa meter dari pusat listrik di Lebanon, yang sejajar dengan pelabuhan,” imbuhnya, seperti dikutip dari Al Jazeera.

Editor Sky News Timur Tengah, Zein Ja’far, yang berada di pusat kota Beirut saat insiden pada Selasa 4 Agustus sore, mengatakan ledakan besar menyebabkan jendela runtuh dan membentuk seperti gua.

“Ledakan ini merobek fasad bangunan tempat kami berada, dan begitu debu mereda, kami dan orang lain di blok ini bergegas ke luar. Benar-benar pemandangan yang mengkhawatirkan,” kata Ja’far.

“Suara sirene brigade pemadam kebakaran, ambulans, polisi dan juga militer telah cukup gencar selama 45 menit terakhir dan sejumlah besar layanan darurat dan pasukan keamanan bergegas ke daerah itu sekarang,” ungkap dia.

Ja’far menyaksikan banyak orang yang sangat linglung, dengan berlumuran darah berjalan-jalan mencoba mengumpulkan sisa tenaga mereka.

Seorang warga setempat bernama Fady Roumieh, berdiri di tempat parkir sebuah pusat perbelanjaan sekitar 2 km dari timur ledakan. Dia berkata, “(Ledakan itu) seperti bom nuklir. Kerusakan begitu luas dan parah di seluruh kota”.

“Beberapa bangunan sejauh 2 km sebagian runtuh. Ini seperti zona perang. Kerusakannya ekstrem. Tidak ada satu pun jendela kaca yang utuh,” tutur Fady.

Gubernur Beirut Marwan Abboud tak bisa menahan tangisnya ketika memantau lokasi ledakan. Ia mengaku tak pernah melihat bencana seperti ini seumur hidupnya.

“Saya tak pernah melihat kehancuran seperti ini. Ini adalah petaka nasional. Ini adalah bencana bagi Lebanon,” ujar Abboud saat diwawancara Sky News Arabia.

Ledakan di Beirut, Lebanon, mengakibatkan terjadinya kepulan asap tinggi, sehingga pengguna media sosial menyebutnya mirip dengan bom Hiroshima.

Marwan Abboud juga ikut berpikir demikian. “(Ini) mirip dengan apa yang terjadi di Hiroshima dan Nagasaki,” ucapnya.

Palang Merah Lebanon mengumumkan ledakan di Beirut, telah merenggut nyawa lebih dari 100 orang. Angka korban terus bertambah dalam 12 jam terakhir. Pencarian korban pun masih belum selesai.

“Hingga kini, lebih dari 4.000 orang telah terluka dan lebih dari 100 telah kehilangan nyawa mereka,” ujar Palang Merah Lebanon, seperti dikutip AFP.

“Tim-tim kami masih melakukan operasi search and rescue di area sekitar,” jelas pihak Palang Merah Lebanon.

Presiden Lebanon Michel Aoun mengaku telah mengetahui sumber penyebab ledakan. Dalam akun Twitter Kepresidenan Lebanon, Aoun mengungkap penyebab ledakan di Beirut itu berasal dari 2.750 ton amonium nitrat yang disimpan di pelabuhan Beirut sebelum dikirim ke Afrika.

Ia menyatakan, penimbunan ribuan ton amonium nitrat di sebuah gudang tanpa langkah keamanan seperti itu tidak dapat diterima.

Aoun menekankan, mereka yang bertanggung jawab atas tragedi ledakan di Beirut tersebut harus diganjar hukuman paling berat, seperti dikutip dari kantor berita Anadulo.

Otoritas Lebanon langsung menyatakan Beirut sebagai “daerah bencana” akibat peristiwa itu. Dewan Pertahanan Tertinggi Lebanon menyatakan status darurat di Ibu Kota Beirut selama dua pekan ke depan.

Komite investigasi juga telah dibentuk guna menyiapkan laporan mengenai ledakan dalam lima hari ke depan.

Serangan Israel?

Israel yang telah lama berperang dengan kelompok bersenjata Lebanon, Hizbullah, diduga ada di balik ledakan Beirut. Meski begitu, pihak Israel menampik terlibat dalam tragedi tersebut.

“Israel membantah ada hubungan dengan ledakan yang mengguncang Lebanon pada Selasa, 4 Agustus 2020,” demikian dikutip dari laman english.alarabiya.net.

“Israel tidak ada hubungannya dengan insiden itu,” kata pejabat anonim tersebut.

Secara terpisah, Menteri Luar Negeri Israel Gabi Ashkenazi, mengatakan kepada televisi Israel N12 bahwa ledakan itu kemungkinan besar merupakan kecelakaan yang disebabkan kebakaran.

Yon Machmudi, Pengamat Timur Tengah dari Universitas Indonesia menilai, Israel tidak bisa lepas begitu saja dari berbagai tudingan di balik ledakan di Beirut.

“Ini kan sebenarnya soal pelabuhan Beirut yang beberapa tahun belakangan itu disorot oleh Amerika dan Israel sebagai pelabuhan Hizbullah. Mereka menuduh bahwa pelabuhan itu dijadikan sebagai tempat penyelundupan senjata atau amunisi yang dianggap membahayakan stabilitas kawasan,” ungkap Yon saat dihubungi Liputan6.com.

Lebanon, menurutnya, telah lama menjadi penghubung penyelundupan senjata ke Suriah, yang juga mengancam keamanan Israel.

“Dengan adanya bom itu, tentu saya kira perlu dilihat juga sebenarnya bahwa ledakan itu yang pertama bagaimana sebuah bahan peledak, jumlahnya cukup banyak, itu tersimpan tanpa pengawasan dan itu adalah bahan peledak yang disita pelabuhan beberapa tahun belakangan,” lanjutnya.

Yon menjelaskan, bahwa tidak bisa dipungkiri di mana otoritas pemerintah tidak dapat sepenuhnya mengawasi dan mengontrol di pelabuhan tersebut. Hal ini pun kemudian menimbulkan spekulasi terkait apakah kemudian bahan peledak tersebut meledak dengan sendirinya atau ada pihak yang meledakkan.

Meski penyebab ledakan masih belum jelas, insiden ini tentu menunjukkan kelalaian dari pihak pemerintah terkait kontrol terhadap penyimpanan bahan peledak yang jumlahnya sangat besar.

Lantas, apakah insiden ini kemudian berpotensi terhadap keadaan keamanan di kawasan? Yon menyatakan bahwa hal ini tentu memiliki dampak terhadap Timur Tengah.

“Bagaimanapun kan Lebanon selama ini jadi negara untuk menyalurkan proxy, termasuk penyelundupan persenjataan, biasanya sih dari Iran lewat Lebanon kemudian Suriah atau dari Iran ke Hizbullah dan membahayakan keamanan Israel.”

“Jadi memang kondisi ini saya kira mau tidak mau akan mempengaruhi situasi seperti ini,” jelas Yon.

Dia menilai, tragedi ledakan ini memiliki potensi sabotase, namun siapa pelakunya tentu masih menjadi misteri hingga saat ini.

Ia menyampaikan beberapa teori yang kemudian muncul seperti adanya pihak yang menganggap Israel sebagai pelaku lantaran belakangan, negara Yahudi itu beberapa kali komplain terhadap masuknya penyelundupan senjata dan bahan peledak di pelabuhan Beirut. Selain itu, ada pula yang meyakini bahwa Hizbullah sendiri yang memiliki kaitan dengan insiden ini.

“Tapi kalau melihat track record Hizbullah sendiri, lebih banyak menjadi ancaman luar negeri daripada secara khusus mengorbankan rakyat Lebanon,” ujar Yon.

Yon menyimpulkan, kondisi warga Lebanon saat ini tengah menunjukkan kemarahannya kepada pemerintah yang dinilai tidak mampu melindungi rakyatnya dari ancaman. Tragedi ledakan ini pun menjadi sebuah bentuk kelalaian pemerintah Lebanon dalam mengantisipasi insiden tersebut.

Sumber gambar: https://www.aljazeera.com/indepth/inpictures/pictures-lebanon-capital-beirut-shaken-massive-explosion-200804162150133.html

Hits: 9