Yon Machmudi: Timur Tengah Kini Realistis, Pragmatis Soal Palestina

Direktur Eksekutif InMind Institute Yon Machmudi, Ph.D. diwawancarai oleh Tempo terkait sikap negara-negara Timur Tengah setelah Uni Emirat Arab membuka hubungan diplomatik dengan Israel. Wawancara ini dimuat pada 20 Agustus 2020 dalam https://dunia.tempo.co/read/1377736/wawancara-yon-machmudi-timur-tengah-kini-realistis-pragmatis-soal-palestina/full?view=ok. Hak cipta milik Tempo.

Normalisasi hubungan Israel dan Uni Emirat Arab pada awal Agustus 2020 memunculkan tanda tanya besar tentang bagaimana nasib Palestina yang wilayahnya semakin tergerus akibat perampasan oleh Israel? Bahkan Israel telah mengungkap rencananya merampas Tepi Barat dari Palestina.

Masyarakat internasional pun tampak terbelah antara masih konsisten mendukung perjuangan Palestina dan yang mulai memilih realistis dan pragmatis.

Kepala Program Pasca Sarjana Kajian Timur Tengah dan Islam, Sekolah Kajian Strategis dan Global Universitas Indonesia, Yon Machmudi mengatakan negara-negara kawasan Timur Tengah saat ini cenderung bersikap realistis dan pragmatis dengan mulai menganggap secara de facto Palestina berada di wilayah Israel.

“Mulai terjadi pengkhianatan terhadap realitas,” kata Yon Machmudi dalam wawancara khusus dengan Tempo melalui telepon, Rabu, 19 Agustus 2020.

Menurut Yon, normalisasi hubungan Israel dan UEA berimplikasi luas bagi semakin beratnya perjuangan Palestina untuk menjadi negara merdeka dari Israel.

Satu per satu negara-negara tetangga Palestina meninggalkannya karena mengedepankan kepentingan bilateral dengan Israel.

Ironisnya, dalam perjanjian normalisasi Israel dan UEA menyebutkan Israel menghentikan sementara pencaplokan terhadap wilayah Palestina untuk menjalin kembali hubungan baik antara Israel dan UEA dan akan menyusul dengan Bahrain dan Oman.

Berikut petikan wawancara Yon Machmudi yang telah menulis sejumlah buku ilmiah tentang Timur Tengah.

Mengapa Israel memilih menjalin kembali hubungan diplomatiknya dengan UEA?

Dinamika Timur Tengah banyak dipengaruhi oleh Amerika Serikat. Ada 3 poros terkait Amerika di kawasan Timur Tengah. Poros pertama, Arab Saudi, Uni Emirat Arab dan Mesir. Poros ini pendukung Amerika Serikat.

Poros kedua adalah Iran, Irak, Lebanon, dan Suriah yang kesemuanya berseberangan dengan Amerika.

Poros ketiga, Turki dan Qatar yang menjaga indepedensi dengan tetap berhubungan dengan Amerika tapi juga menjalin hubungan dengan Iran.

Kebijakan Amerika di Timur Tengah melindungi dan membela kepentingan Israel. Sehingga ketika negara-negara itu berhubungan dekat dengan Amerika, maka pasti mereka dekat dengan Israel. Poros Arab Saudi, UEA, dan Mesir dekat dengan Amerika. Komunikasi Israel dengan UEA sudah terbangun sejak lama. Secara geo politik, UEA dekat dengan Israel dan juga Palestina.

Apa pesan Israel kepada masyarakat internasional dengan normalisasi hubungan dengan UEA?

Dengan normalisasi ini, Israel mau memastikan negara-negara Arab bisa memahami kebijakan Israel tentang Palestina. Sehingga jika terjadi kerusuhan di Palestina, negara-negara Arab diharapkan tidak memberikan reaksi.

Selama ini Israel belum mendapatkan kepastian dari negara-negara tetangganya itu agar mereka tidak ikut campur dengan masalah Palestina. Makanya dilakukan kerja sama dan normalisasi.

Media-media di Israel melaporkan dengan normalisasi ini akan membuat kecaman-kecaman negara tetangga Arab tidak lagi menguat.

Sebagai balasan, Israel memberikan tawaran-tawaran ekonomi seperti berinvestasi di Timur Tengah karena kondisi perekonomian negara-negara Timur Tengah juga melemah dan mereka saat ini mencari energi alternatif namun belum menemukan solusi.

Israel perlu meredam agar negara-negara di Timur Tengah tidak mencampuri urusan dalam negerinya dengan Palestina.

Normalisasi hubungan dengan UEA ini membuat Israel akan diakui sebagai entitas negara di kawasan Timur Tengah yang sedang menggalang semangat menjalin hubungan baik dengan tetangganya.

Menurut Anda, apakah Israel juga akan berusaha melakukan normalisasi hubungan dengan Arab Saudi?

Saya menduga kesuksesan normalisasi dengan UEA akan kemungkinan dilakukan juga dengan Arab Saudi termasuk dengan langkah Israel berinvestasi di Arab Saudi.

Deal-deal ekonomi ini kemungkinan akan menyelesaikan masalah Palestina dengan menekan Palestina untuk mengikuti tawaran-tawaran Israel dan negara-negara Arab yang selama ini memberi bantuan ke Palestina. Sehingga Potensi Palestina ditinggalkan akan sangat besar peluangnya.

Mengapa Arab Saudi bungkam setelah normalisasi hubungan Israel dan UEA dibuka ke publik internasional?

Pertama, keinginan dan kepentingan elit istana menyetujui normalisasi, sementara publik di bawah menolak normalisasi. Ini lebih pada pertimbangan internal untuk menyelaraskan kepentingan istana dan masyarakat. Pihak Israel mulai bersiap untuk bernegosiasi dengan Saudi untuk kepentingan masa depannya.

Negosiasi diam-diam sudah dilakukan melalui mediasi Amerika. Hanya saja
belum dibuka ke publik.

Bagaimana dampaknya terhadap Palestina karena Presiden Mahmoud Abbas secara tegas mengecam normalisasi itu?

Ini masalah besar dirasakan Palestina karena masalah digeser jadi sangat terbatas, tidak lagi ke persoalan internasional. Palestina akan menyuarakan masalahnya ke masyarakat internasional agar nasibnya tidak ditentukan beberapa negara saja yang melihat masalah Palestina kini sebagai persoalan dalam negeri Israel.

Bagaimana Anda melihat peran Malaysia dan Indonesia dalam mendukung Palestina di tengah kemunculan normalisasi hubungan Israel dan UEA?

Mengingat dua negara ini dinilai paling konsisten dalam memperjuangkan Palestina.

Malaysia tahun lalu menggagas Kuala Lumpur Summit untuk membahas Palestina. Pemerintah Indonesia mengirim Menteri Luar Negeri. Pakistan tidak hadir karena mendapat tekanan dari Arab Saudi.

Kalau Indonesia konsisten mendukung Palestina, maka dapat menggalang kekuatan-kekuatan lain semacam membuat poros dengan Turki, Rusia, Uni Eropa yang netral untuk mendukung Palestina.

Pendekatan two state solution mulai meredup. Amerika dan Israel lebih realistis.

UEA selama ini mengecam pencaplokan wilayah Palestina oleh Israel, namun dalam kesepakatan normalisasi dengan Israel tidak ada penegasan soal itu? Apa pandangan Anda mengenai hal ini?

Tidak ada cara lain yang bisa dilakukan oleh negara-negara kawasan, mereka tidak mau memakai cara berperang seperti dulu. Jadi mereka sekarang realistis dan pragmatis. Mereka mulai menganggap secara de facto Palestina berada di wilayah negara Israel. Dari sini pengkhianatan itu terjadi. Kepentingan kawasan membuat mereka mengorbankan bangsa Palestina.

sumber gambar: https://www.middleeastmonitor.com/20180426-the-war-in-syria-and-the-arab-summit/amp/

Hits: 20